Rakyat Indonesia jadi Konsumen Beras Terbesar
Rabu, 14 Desember 2011 , 08:21:00 WIB
![]() GITA WIRJAWAN |
RMOL.Konsumsi beras di Indonesia sudah mencapai ambang batas atas. Pemerintah pun bertekad mengurangi pola konsumsi mayarakat atas beras. Menteri Gita Wirjawan bahkan mengaku sudah mulai mengkonsumsi singkong.
Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap beras menunjukkan angka tertinggi di Asia Tenggara.
Sebagai perbandingan, Malaysia dan Vietnam hanya mengkonsumsi setengah dari jumlah konsumsi beras di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan pemerintah menempuh langkah alternatif seperti diversifikasi pangan.
“Kebutuhan beras kita sangat besar, yaitu 130-140 kilo gram per orang per tahun. Kalau bisa turun menjadi 90 kilo gram saja maka kita bisa jadi salah satu eksportir beras terbesar di dunia,” ujar Gita di Tangerang, kemarin.
Ia menuturkan, kebutuhan beras di Asia Tenggara hanya mencapai 70 kilogram (kg) per orang per tahun. Adapun langkah alternatif yang mulai gencar dilakukan pemerintah adalah dengan mensosialisasikan pangan pengganti beras seperti singkong.
Menurut Gita, masyarakat harus mulai mencoba pangan selain beras. Pengalihan konsumsi itu tentu membutuhkan waktu yang sangat panjang.
“Memang butuh waktu lama mengajak masyarakat beralih ke singkong. Karena itu, kita mulai sosialisasikan agar pola konsumsi beras turun. Masyarakat kita ajak untuk substitusi beras ke singkong,” ajak Gita.
Saat ini, lanjutnya, masyarakat di daerah Cirendeu sudah melakukan pola konsumsi singkong. Dirinya serius melakukan program diversifikasi pangan. Karena itu, pihaknya mengaku sedang mempelajari pola pergantian konsumsi pangan pokok.
“Saya juga sudah mulai mengkonsumsi singkong. Singkong bisa dijadikan salah satu contoh substitusi beras,” tandasnya.
Cuma Omong Kosong
Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sutrisno Iwantono menuturkan, perubahan pola konsumsi masyarakat dari beras ke singkong bukan merupakan hal baru.
Namun, katanya, hingga saat ini wacana itu belum bisa berjalan mulus. Hal itu karena belum adanya tindakan konkret pemerintah dalam mengajak masyarakat beralih ke makanan pangan selain beras.
“Sejak 15 tahun yang lalu sudah ada rencana perubahan pola konsumsi ini. Namun pemerintah kan hanya omong doang dan belum ada tindakan nyata. Perubahan ini tidak mudah karena membutuhkan penyuluhan yang panjang,” ujar Sutrisno kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, pernyataan Mendag tidak akan membuat petani beras beralih menjadi petani singkong. Sebab, untuk beralih profesi dibutuhkan permodalan dan keterampilan baru. Petani beras dinilai tetap optimistis terhadap pola konsumsi beras masyarakat Indonesia. Selain membutuhkan sosialisasi, pengalihan pola konsumsi ini juga menyita waktu panjang.
“Saya sarankan pemerintah bisa melakukan diversifikasi pangan sekaligus swasembada pangan dalam waktu bersamaan. Jadi ketahanan pangan bisa aman. Yang penting hindari impor pangan,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Anggota komisi VI DPR Dodi Reza menilai, tidak mudah mengubah pola konsumsi beras masyarakat Indonesia. Dia menyarankan sebaiknya pemerintah secara bertahap melakukan pergalihan pola konsumsi di samping segera merealisasikan swasembada beras.
Stok Sembako Aman
Dalam kesempatan yang sama, Mendag juga mengunjungi Pasar Sinpasa, Gading Serpong, untuk memantau pergerakan harga kebutuhan pokok. Di pasar yang jauh dari kesan kumuh dan becek itu, kenaikan harga sembako jelang Natal dan Tahun Baru akhir tahun sudah mulai terasa.
“Memang ada kenaikan harga seperti cabe, daging, kentang dan beras. Kenaikan beras dan daging sudah mencapai batas atas. Kita akan menyikapi hal ini,” ujar Gita.
Ia mengatakan, kenaikan harga disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena terhambatnya pasokan akibat permasalahan infrastruktur dan rendahnya tingkat produktivitas lahan.
“Kami akan pelajari kenaikan harga pada komoditas tertentu. Pasokan bahan kebutuhan pokok hingga akhir tahun aman. Sampai saat ini kami belum mengarah pada operasi pasar,” kata bekas Kepala BKPM itu. [Harian Rakyat Merdeka]


- singkong



